TUTUP
TUTUP
METRO

Pengacara Nilai Polisi Membunuh Karakter Habib Rizieq

Kasus yang disangkakan memaksakan prosedur hukum di luar kewajaran.
Pengacara Nilai Polisi Membunuh Karakter Habib Rizieq
Imam Besar FPI, Habib Rizieq Shihab (VIVA.co.id/Adi Suparman (Bandung))

VIVA.co.id – Kejanggalan kasus dugaan pornografi yang menyeret Imam Besar Front Pembela Islam Habib Rizieq Shihab, agar direspons secara bijak oleh Kepolisian. Jika diteruskan, upaya Kepolisian ini dinilai membunuh karakter Rizieq dan tokoh-tokoh Islam lainnya.

"Kasus yang disangkakan kepada Habib Rizieq telah diketahui luas oleh masyarakat, sebagai upaya memaksakan prosedur hukum di luar kewajaran, tanpa bukti memadai, dan sarat dengan sentimen antikelompok agama," kata salah seorang pengacara Rizieq, Sugito Atmo Pawiro, Rabu 14 Juni 2017.

Dia kembali merincikan, kasus pornografi yang berawal dari skandal chat via WhatsApp, lalu diekspose melalui situs liar, baladacintarizieq, tidak memiliki bukti cukup. Selain itu, proses gelar perkara juga tidak pernah dilansir ke masyarakat secara terbuka.

Status Rizieq yang ditetapkan sebagai tersangka, namun tanpa mendalami penyebar luas menjadi tanda tanya.

"Disebarluaskan oleh media online (website) yang pembuatnya juga tidak bisa dimintakan pertanggungjawabannya oleh polisi." tutur Sugito.

Terkait pernyataan polisi yang membuat situs balacintarizieq tak berada di Indonesia dan sulit ditangkap, menambah kejanggalan lain. Padahal, jika hendak diusut berdasarkan Undang-undang Pornografi, seharusnya penyebar situs itu yang harus terlebih dahulu dimintakan pertanggungjawaban hukum.

"Masyarakat memahami bahwa sangat janggal, jika Habib Rizieq dan Firza Hussein yang merupakan korban fitnah, justru yang ditetapkan sebagai tersangka pelanggaran UU Pornografi terlebih dahulu," jelasnya.

Kemudian, status Rizieq tak seharusnya menjadi subjek hukum dimintakan pertanggungjawabannya. Berbeda pelaku penyebarkan video tersebut yang masih bebas dan tidak dimintakan pertanggungjawaban hukum.

"Dalam hal ini, polisi harus menemukan terlebih dahulu subjek hukum yang diduga sebagai pelaku penyebaran video tersebut," tuturnya.

Selanjutnya, red notice ditolak>>>

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...
TUTUP