TUTUP
TUTUP
MINIMIZE
CLOSE
METRO
Pilkada DKI 2017

Djarot Senang Survei LSI Prediksi Kekalahannya

"Survei gratis itu kan, soalnya kami kan enggak ada survei."
Djarot Senang Survei LSI Prediksi Kekalahannya
Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat usai tes psikologi di Mintoharjo. (VIVA.co.id/ Herdi Muhardi)

VIVA.co.id – Wakil Gubernur DKI Jakarta yang juga calon incumbent Djarot Saiful Hidayat tak mau ambil pusing diprediksi bakal kalah dalam survei Lingkaran Survei Indonesia pimpinan Denny JA. Djarot justru bersyukur, bahwa hasil survei itu menjadi bahan evaluasi bagi tim pemenangan Ahok-Djarot.

"Senang kita. Bisa jadi bahan evaluasi. Survei gratis itu kan, soalnya kami kan enggak ada survei, kami enggak pernah melakukan survei, karena survei bayar mahal," kata Djarot di Balai Kota, Jakarta, Rabu 5 Oktober 2016.

Dengan adanya hasil survei itu, Djarot mengaku menjadi lebih bersemangat dan fokus bekerja  meraih kemenangan. "Dikalahin dalam survei juga enggak apa, lha survei aja lho. Kan belum tentu sesuai kenyataan," katanya.

Sebelumnya, survei LSI menyebutkan, saat ini pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI, Basuki Tjahaja Purnama dan Djarot Saiful Hidayat, tengah berada dalam posisi tidak aman.

Padahal, menurut tim Peneliti LSI, Adjie Alfaraby Ahok-Djarot saat ini masih menempati posisi pertama hasil survei LSI, dengan perolehan suara 31,4 persen. Di peringkat kedua, pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno mendapatkan 21,1 persen. Sedangkan Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni bertengger di posisi ketiga dengan suara sebesar 19,3 persen. Sedangkan sebanyak 28,2 persen warga DKI belum memutuskan pilihannya.

"Di lihat dari data di atas, posisi calon petahana tidak aman," kata Adjie di kantor LSI, Rawamangun, Jakarta Timur,Selasa 4 Oktober 2016.

Ada beberapa alasan mengapa Alfaraby mengatakan Ahok-Djarot berada pada posisi tidak aman. "Jadi selisih antara Ahok-Djarot dengan Anies-Sandi itu hanya sekitar 10 persen. Padahal angka aman bagi seorang petahana itu seharusnya selisih 20 persen," ujarnya.

Menurut Alfaraby, semestinya petahana dapat dengan mudah meraih selisih sebesar 20 persen tersebut.

"Karena kan sudah bekerja hampir lima tahun. Beberapa program kerja juga sudah dikerjakan. Tetapi selisih elektabilitasnyatak sampai 20 persen. Jadi posisi petahana tidak aman," katanya.

Dalam penelitian itu, voting melibatkan 440 responden yang tersebar di sejumlah wilayah di DKI Jakarta. Metodologi yang digunakan adalah multistage random sampling dengan margin of error di bawah 4,8 persen.

Pengumpulan data itu sendiri dilakukan pada 26 September hingga 30 September 2016 lalu. Sementara pihak LSI Denny JA juga langsung melakukan wawancara tatap muka terhadap responden menggunakan kuesioner.

 

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...
TERPOPULER
TUTUP