TUTUP
TUTUP
METRO

Jejak Kopi Sianida yang Tewaskan Dua Pengikut Satrio Aji

Kopi diperkirakan dicampur sianida sebelum menjalani ritual.
Jejak Kopi Sianida yang Tewaskan Dua Pengikut Satrio Aji
Kepala Polresta Depok, Komisaris Besar Polisi Harry Kurniawan (kanan), menanyai pedagang kopi untuk penyelidikan kasus pembunuhan dengan kopi yang mengandung sianida Rabu, 5 Oktober 2016. (VIVA.co.id/Zahrul Darmawan)

VIVA.co.id - Tim penyidik Kepolisian Resor Kota (Polresta) Depok terus menyelidiki kasus pembunuhan kopi bersianida dengan tersangka Anton Hardiyanto alias Aji (34 tahun), pemimpin Padepokan Satrio Aji.

Polisi mendapatkan keterangan bahwa kopi itu dibeli tersangka di sebuah warung yang tak jauh dari tempat tinggalnya di kawasan Jalan M. Yusuf, Gang H. Naim, Sukmajaya, Depok.

Jamal, pedagang kopi itu, mengaku memang sempat didatangi Anton pada Jumat malam, 29 September 2016. Anton, katanya, memesan tiga gelas kopi, satu gelas es teh, dan sejumlah penganan gorengan.

“Saya bikin kopi seperti biasa. Itu kopi sachet (kemasan), enggak mungkinlah saya taruh racun,” kata Jamal saat ditemui di warung kopinya pada Rabu, 5 Oktober 2016.

Kopi yang telah diseduh itu kemudian diminta dibungkus dengan ditambahkan gelas plastik kecil. Anton pergi dengan mengendarai mobil Toyota Avanza berwarna putih setelah membayar pesanannya. Ada dua orang selain Anton di dalam mobil itu.

Jamal mengaku tidak mengenal dekat Anton. Namun dia mengakui Anton memang sering minum kopi di warungnya. “Saya enggak nyangka kalau dia berbuat begitu,” katanya.      

Kepala Polresta Depok, Komisaris Besar Polisi Harry Kurniawan, menduga potassium sianida (racun ikan) itu dituangkan Anton setiba di lahan kosong di kawasan Kampung Serab, Sukmajaya, Depok.

“Tersangka yang menyuguhkan kopi dengan lebih dulu mencampurkan sianida ke dalamnya. Berapa kandungan sianida, itu yang sedang kami dalami. Kedua korban yang meminum kopi tersebut pun langsung tewas di tempat,” katanya.

Ritual Jumat malam

Tersangka nekat menghabisi dua nyawa pengikutnya dengan motif ingin menguasai mobil dan uang para korban. Modusnya, tersangka merayu korban dengan iming-iming emas batangan secara gaib sebanyak satu kilogram. Namun untuk mendapatkan itu, korban diminta menyerahkan mahar berupa mobil dan sejumlah uang.

Tergiur dengan ucapan tersangka, kedua korban yang hanya sopir taksi berbasis aplikasi itu setuju hingga mereka diajak ke sebuah tempat di kawasan Kampung Serab. Mereka menjalani ritual pada Jumat malam, 30 September 2016. 

Di saat itulah tersangka menyuguhkan kopi yang telah dicampurkan potasium sianida hingga korban meregang nyawa di lokasi kejadian. Para korban kemudian dibuang di tempat berbeda.

Korban pertama, Ahmad Sanusi (20 tahun), warga Jalan Lubang Buaya, Kelurahan Lubang Buaya, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur. Jasadnya ditemukan dalam kondisi miring di dalam parit di Jalan Makam Kopo, Kelurahan Limo, Kecamatan Limo, Depok, pada Sabtu pagi, 1 Oktober 2016.

Korban kedua, Shendy Eko Budianto (29 tahun), warga Jalan Pencil, Desa Wuryorejo, Kecamatan Wonogiri, Jawa Tengah. Jasad Shendy ditemukan di dalam kali di Jalan Pertanian Raya, Kelurahan Grogol, Kecamatan Limo, Depok. Lokasi itu tak jauh dari tempat jasad Ahmad Sanusi ditemukan.

Polisi telah menetapkan dua orang tersangka, yakni Anton alias Aji dan Riyadi. Mereka diringkus dalam pelarian di Lampung. Penangkapan itu melibatkan Polda Banten, Polda Jawa Tengah, dan Polda Lampung. (ase)

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...
TERPOPULER
TUTUP