TUTUP
TUTUP
MINIMIZE
CLOSE
METRO

Analisis Pakar Hipnoterapi Lihat Jessica di Pengadilan

Bagaimana bisa sejumlah besar kebetulan terjadi dalam waktu bersamaan.
Analisis Pakar Hipnoterapi Lihat Jessica di Pengadilan
Terdakwa Jessica Kumala Wongso  (ANTARA/Rosa Panggabean)

VIVA.co.id – Sidang perkara pembunuhan terhadap Wayan Mirna Salihin dengan terdakwa Jessica Kumala Wongso telah memasuki agenda pemeriksaan terdakwa.

Menurut professional hypnotherapist, Kirdi Putra, banyak hal-hal yang terlihat saat Jessica merenspons setiap pertanyaan yang diberikan Jaksa Penuntut Umum (JPU), hakim dan penasihat hukum.

Kirdi menilai, banyak drama-drama yang diperlihatkan Jessica. Ia menjelaskan, selama persidangan itu pula ditunjukkan pola-pola kebetulan yang ditampilkan oleh Jessica dari awal persidangan sampai sekarang.

Menurut dia, tidak ada sebuah metode dan perangkat pun yang bisa 100 persen menentukan seseorang berbohong atau bersalah (lie detecting).

"Seperti halnya tidak ada pola bahasa tubuh tertentu yang kemudian bisa menjustifikasi seseorang bersalah atau tidak, jika hanya berdiri sendiri-sendiri," ujar Senior Consultant dan Researcher of Narapatih itu, di Jakarta, Jumat, 30 September 2016.

Selain itu, bahasa tubuh, cara bicara dan ekspresi bisa dilihat dari keselarasan pola yang ditampilkan oleh seseorang yang bisa digunakan untuk observasi kebetulan-kebetulan dan ketidakselarasan antar pola-pola yang ada termasuk konten keterangan yang diberikan Jessica di hadapan pengadilan.

"Beberapa kebetulan itu misalnya, kebetulan Jessica yang memilih tempat di Kafe Olivier, kebetulan Jessica pesan minum dan langsung membayar duluan, kebetulan celana Jessica sobek dan dibuang, kebetulan tas-tas ditaruh di atas meja, kebetulan keluar dari grup WA setelah Mirna meninggal, dan lainnya," kata dia.

Kirdi menambahkan, ada juga pola-pola lain yang ditampilkan semasa penyidikan sampai persidangan, ekspresi yang ditampilkan Jessica relatif (terlihat) datar. Akan tetapi, di beberapa titik justru menampilkan adegan-adegan yang sifatnya emosional seperti yang terlihat di televisi.

"Lalu penggunaan kacamata yang dipakai ketika memberikan keterangan (yang kebetulan hampir tidak pernah dipakai sebelum-belumnya), kemudian meneteskan air mata," katanya.

Kemudian, hal tersebut memang bukan serta merta menentukan jika Jessica bersalah atau tidak bersalah, tapi tentu saja bisa menjadi salah satu petunjuk dalam proses penyidikan.

"Berbagai kebetulan yang berdiri sendiri-sendiri mungkin tidak ada artinya, karena semua orang mengalami kebetulan. Tapi kebetulan-kebetulan yang terkumpul sebagai satu kesatuan, tidak bisa tidak, membuat kita bertanya-tanya, bagaimana bisa sejumlah besar kebetulan terjadi dalam waktu yang bersamaan?" ujarnya. (ase)


 

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...
TERPOPULER
TUTUP