METRO

"Tempe Langka, Swasembada Jauh dari Impian"

Kelangkaan tempe juga karena masalah bahan baku di negara importir.
Kamis, 26 Juli 2012
Oleh : Bayu Galih, Oscar Ferri
Tempe

VIVAnews - Ketua DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Marwan Jafar mengatakan aksi mogok produksi dan ancaman demontrasi besar-besaran dari para perajin tempe dan tahu mestinya disikapi bijak. Penghentian produksi massal hanya akan memicu kelangkaan tempe dan tahu di pasaran sebagai makanan kegemaran masyarakat umum.

Menurut, Marwan, kenaikan harga kedelai sebagai bahan baku tempe diakibatkan situasi di negara importir yang dilanda kekeringan. Namun, persoalan tersebut memang di luar kewenangan pemerintah Indonesia.

Namun, ada hikmah yang menjadi catatan penting untuk pemerintah Indonesia, bahwa target swasembada kedelai pada 2014 mendatang akan jauh dari impian. "Buktinya, kedelai dalam negeri hanya mampu memasok 800 ribu ton per tahun, sementara tingkat kebutuhan konsumsi kedelai nasional mencapai 3 juta ton per tahun," kata Marwan.

"Masih tingginya impor kedelai yang mencapai 60 persen mewajibkan ada perhatian khusus di sektor pertanian kedelai agar ke depan kita tidak bergantung lagi dengan impor, atau setidaknya mengurangi angka impor," kata Ketua Fraksi PKB itu.

Cara yang bisa ditempuh adalah pengembangan petani kedelai lokal yang kualitasnya setara dengan kedelai impor. Hal ini tentu tidak terlalu menjadi persoalan mengingat Indonesia sebagai negara agraris memiliki lahan setara dengan lahan importir kedelai. Pengembangan ini dibarengi teknologi pertanian yang canggih, modern, efisien, dan ramah lingkungan.

Marwan menambahkan, pemerintah juga perlu mempertimbangkan secara matang usulan penghapusan bea masuk impor dari 5 persen menjadi 0 persen. Jika penghapusan itu benar-benar demi kepentingan rakyat dan keberlangsungan stabilitas nasional, maka tidak ada salahnya dihapus menjadi 0 persen.

"Meroketnya harga kedelai dan kelangkaan tempe bisa memicu pihak-pihak tertentu untuk mencari keuntungan sesaat. Pemerintah harus berani menindak para spekulan nakal dan pengusaha yang memonopoli pasar kedelai," katanya.
 
Marwan mengingatkan bahwa saat ini pemerintah juga perlu memantau dan mengendalikan kenaikan harga-harga sembako yang kian membumbung hingga menjelang Lebaran.

Seperti diberitakan sebelumnya, Menteri Perdagangan (Mendag) Gita Wirjawan, menilai permasalahan pola konsumsi yang terlalu berlebihan juga memicu terjadinya kelangkaan produk kedelai saat ini.

Hal itu diperparah dengan anomali cuaca yang tidak mendukung produksi kedelai pada tahun ini. Gita pesimistis dengan pengenaan tarif bea masuk barang impor dari lima persen menjadi nol persen, karena tidak akan terlalu berpengaruh meredam kenaikan harga saat ini. Karena tidak didukung dengan penyesuaian pola konsumsi masyarakat.

"Saya rasa, elastisitas permintaan ini harus benar-benar diukur. Kalau harga meningkat, apakah kita akan mengubah pola konsumsi," kata Gita.

Ditambahkan Gita, kenaikan harga di pasar saat ini, juga tidak bisa dikompensasi dengan kebijakan tersebut.

"Sekarang kalau harganya naik 200 persen atau lebih, apakah itu akan memberikan efek dengan pemberian bea masuk, saya rasa tidak. Itu sangat kecil sekali presentasinya," ucap Gita.

TERKAIT
TERPOPULER
File Not Found