METRO

Pilkada DKI di Putaran Kedua Bakal Sengit

Suara pemilih yang mengalir juga bisa diterka.
Kamis, 12 Juli 2012
Oleh : Eko Priliawito, Sukirno
Joko Widodo dan Fauzi Bowo

VIVAnews - Dengan hasil hitung cepat sementara pasangan Joko Widodo dan Basuki Tjahaya Purnama unggul dari pasangan incumbent Fauzi Bowo dan Nachrowi Ramli. Dari hasil itu, dua kandidat ini diperkirakan akan bertarung dalam putaran dua.

Direktur Riset Lingkaran Survei Indonesia (LSI), Arman Salam, mengatakan, kedua pasangan itu akan masuk ke putaran kedua karena tidak ada satu pasangan calon gubernur yang memperoleh suara mencapai 50 persen plus satu. Lalu bagaimana peluang keduanya di putaran kedua?

"Dua-duanya punya kesempatan sama, dua-duanya punya karakter, punya image building," kata Arman kepada VIVAnews.

Kata Arman, pasangan Foke-Nara, mempunyai keunggulan sebagai pasangan incumbent. Seluruh kekuatannya akan dikerahkan, baik dari sisi kampanye, dana, maupun tim pemenangan.

"Kalau dari peta yang ada, selisih hanya sembilan persen bukan relatif jauh. Akan ada pertarungan yang sengit. Akan menjadi pertarungan politik, uang dan strategi," ujarnya.

Dia menegaskan, soal ke mana suara pemilih kandidat yang tidak lolos ke putaran kedua dapat dilihat dari pernyataan politik para calon itu ke kedua pasangan yang bertarung. Meski begitu, tak ada jaminan suara akan mengalir deras seperti diucapkan, tapi tendensi pemilih bisa diterka.

"Kemungkinan, pemilih PKS yang berkarakter nasionalis-religius mayoritas akan ke Foke, sebaliknya yang nasionalis pemilih Alex dan pasangan Independen mayoritas akan ke Jokowi," kata dia.

Kendati demikian, meskipun suara Hidayat-Didik akan ke Foke, Arman menilai hal itu akan cukup berat untuk mencapai 50 persen lebih. Dia juga memberi catatan khusus, terdapat angka golput yang cukup tinggi hampir menyentuh 40 persen.

"Cukup besar itu. Golput sebagai bahan renungan untuk semuanya. Siapa yang bisa merebut angka golput. Kekalahan Foke bisa jadi Foke tidak bisa membujuk pemilih untuk datang ke TPS," dia menegaskan.

Sementara itu, menakar peluang kedua calon yang akan berlaga di putaran kedua, Arman menjelaskan, keduanya mempunyai peluang yang sama. Fauzi Bowo sebagai pasangan incumbent dinilai masyarakat sudah teruji memimpin Jakarta.

"Entah itu dinilai berhasil atau tidak berhasil memimpin. Dia juga paling populer dengan jaringan birokrasi yang lebih kuat dibanding yang lainnya," kata dia.

Sementara Jokowi, kata Arman, mempunyai kelebihan secara personal sebagai tokoh yang fenomenal. Jokowi sebagai walikota terbaik sudah terlebih dulu berkiprah di luar Jakarta. Kepemimpinan Jokowi sudah terbentuk sebelum memasuki kota Jakarta sebagai calon gubernur.

"Cukup menarik simpati masyarakat, proses pendekatannya menyentuh, itu terkadang cukup efektif. Jokowi fenomenal dengan program-program fenomenalnya," katanya.

Dia menilai, secara personal Jokowi lebih unggul dibandingkan dengan Foke. Namun, secara politik Foke lebih unggul yaitu dari sisi dukungan elit, dana dan birokrasi. "Secara personal, dari publik dia punya program yang tidak sulit dipahami, menyentuh sasaran, lebih instan, misalnya kartu pintar kan sederhana tapi menyentuh," katanya.

TERKAIT
TERPOPULER
File Not Found