METRO

Masalah "Kumis" di Pilkada Jakarta Mendunia

Washington Post memuat "Jakarta’s key election issue: A mustache".
Selasa, 10 Juli 2012
Oleh : Elin Yunita Kristanti
Baliho Enam Pasangan Cagub-cawagub Pilkada DKI Jakarta

VIVAnews - Sebenarnya tak ada masalah dengan kumis, rambut yang tumbuh di atas bibir, di bawah hidung itu. Namun, istilah "kumis" sempat jadi polemik yang mewarnai Pilkada Jakarta.

Kubu pasangan Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli mempermasalahkan tagline pasangan Hendarjdi Supandji-Riza Patria yakni "Jangan Lagi Jakarta Berkumis" dan di bawahnya ada tanda kurung Berkumis singkatan "berantakan, kumuh, dan miskin".

Alasannya, sejak 2007, kumis menjadi ikon Fauzi Bowo. Persoalan tersebut telah dimediasi Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu). Salah satu keputusannya adalah menghapus kata "lagi" dalam tagline tersebut.

Kisruh kumis ternyata menjadi perhatian media asing. Situs Washington Post, 9 Juli 2012, memuat berita dengan judul, "Jakarta’s key election issue: A mustache" atau "Isu kunci dalam Pilkada Jakarta: kumis".

"Di saat 7 juta warga Jakarta, salah satu kota paling penting di Asia sekaligus dengan pengelolaan terburuk, Rabu mendatang yang menjadi isu utama adalah kumis," demikian dimuat salah media berpengaruh di Amerika Serikat itu.

Padahal, menurut situs itu, Jakarta adalah salah satu kota paling padat di dunia. Sepertiga penduduknya tak punya akses air bersih, kemacetan dan polusi akut, tidak ada transportasi publik yang memadai, sehingga penduduknya punya alasan untuk menginginkan perubahan.

Jakarta adalah mesin utama pertumbuhan di Indonesia. Negara yang pertumbuhan ekonominya mencapai 6 persen per tahun selama lima tahun terakhir.

Menurut Washington Post, kota yang menjadi cermin Indonesia itu memiliki infrastruktur yang buruk. Meskipun Indonesia adalah negara dengan ekonomi terbesar di Asia Tenggara. Banyak perusahaan internasional lebih memilih untuk mencari kantor regional mereka di tempat lain.

Sementara, situs media Singapura, Channel News Asia menyoroti soal jajak pendapat yang menyebut, dalam putaran pertama, tak ada satu calon pun yang akan memperoleh suara lebih dari 50 persen.

Meski dibungkus dengan kalimat berbeda, semua calon menawarkan janji-janji serupa, bahwa mereka akan memecahkan masalah-masalah kronis di Jakarta seperti macet dan banjir. (art)

TERKAIT
TERPOPULER
File Not Found