METRO

Sulit Buat DKI Bebas Macet dalam 3 Tahun

Pakar perkotaan Universitas Trisakti menilai kemacetan di Jakarta mirip Lingkaran Setan
Sabtu, 24 Maret 2012
Oleh : Hadi Suprapto, Oscar Ferri
Pakar perkotaan Universitas Trisakti menilai kemacetan di Jakarta mirip Lingkaran Setan

VIVAnews - Pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Alex Nurdin-Nono Sampono siap mengundurkan diri bila program yang dicanangkannya selama tiga tahun tidak berjalan baik. Menurut Alex, tiga tahun itu bukan sekadar slogan, melainkan sebuah janji.

Gubernur Sumatera Selatan tersebut menjanjikan, selama tiga tahun Jakarta akan bebas banjir dan macet. "Kalau selama tiga tahun tidak berhasil, kami siap mundur," kata Alex saat diskusi di Warung Daun, Cikini, Jakarta, Sabtu 24 Maret 2012.

Namun, pakar perkotaan Universitas Trisakti Yayat Supriatna meragukan janji pasangan dari Partai Golkar tersebut. Menurut dia, kemacetan di Jakarta sudah seperti lingkaran setan.

Dari tahun ke tahun "setannya" tidak pernah berhasil ditemukan. Menurut dia, kemacetan telah berimplikasi pada kerugian yang komplikasi. "Dari segi waktu, biaya, sampai polusi," kata Yayat.

Yayat menjelaskan, hal tersebut adalah fakta yang mencekam warga Jakarta sehari-harinya. Implikasi lainnya adalah masalah kesehatan mental.

Berdasar data penilitian Dinas Kesehatan DKI Jakarta, pada 1997 hampir 20 persen atau sekitar 1,8 juta warga Jakarta mengalami gangguan jiwa. Dari 1,8 juta yang mengalami gangguan jiwa, 33,2 persennya adalah para supir angkutan umum. "Itulah sebabnya mengapa ada supir ugal-ugalan," katanya. "Itu penelitian lama. Kalau sekarang mungkin meningkat."

Gangguan kejiwaan yang dialami para supir angkutan umum, kata Yayat, karena mereka dalam kesehariannya selalu dihadapkan pada berbagai masalah. "Supir berhadapan dengan polisi, DLLAJ, setoran, dan preman. Dia stres. Wataknya berubah, jadi peraturan lalu lintas sudah tidak ada lagi," ucapnya.

Menurut dia, kualitas mental buruk para supir itu yang memberi kontributusi pada kemacetan. "Jadi indikasi alangkah buruknya kinerja lalu lintas kita adalah dengan perform supir yang buruk. Kualitas mental yang buruk ini menjadi salah satu problem kemacetan," ucapnya.

Meski begitu, Alex setuju dengan apa yang dikatakan Yayat. Menurut Alex, kerugian materi dari kemacetan mencapai Rp4,6 triliun per tahun. "Jadi kerugian yang luar biasa dari segi BBM, waktu, tenaga, dan ditambah mental dan fisik," ucapnya.

Alex pun mengatakan, problem macet itu bertumpu pada masalah kepimpinan dan pengambilan keputusan yang tidak tepat dan tegas. (ren)

TERKAIT
TERPOPULER
File Not Found