METRO

Bahayanya Bola Beton Pencegah Penumpang Nekat

Kebijakan ini dinilai berlebihan bagi para penumpang kereta karena bisa berdampak fatal

ddd
Rabu, 18 Januari 2012, 14:27
PT KAI pasang Bola Beton
PT KAI pasang Bola Beton (VIVAnews/Ikhwan Yanuar)

VIVAnews - Sehari setelah dipasangnya gawang bola-bola beton, di Stasiun Bekasi untuk sementara tidak lagi  terlihat penumpang yang naik ke atap kereta. Bertujuan mencegah penumpang naik ke atap kereta, bola-bola beton itu bisa berdampak fatal bagi ada yang tetap nekat.

Sebelum ada rangkaian bandul tersebut, biasanya banyak penumpang kereta ekonomi naik ke atap, terutama pada jam sibuk antara pukul 06.00-08.00 WIB. Mereka sangat sulit diatur dan mengabaikan keselamatan demi cepat sampai tujuan.

Kepala Stasiun Besar Bekasi, Eman Sulaeman, mengatakan tiga kereta
ekonomi yang selalu dipenuhi penumpang di atap di antaranya kereta dari Cikarang tujuan Tanjung Priok Jakarta, Karawang tujuan Tanjung Priok Jakarta dan kereta dari Cikampek tujuan Tanjung Priok Jakarta.

“Paling banyak dari Cikarang ke Priok, bahkan pada saat jam sibuk pagi hari penumpang di atap bisa mencapai 100 orang,” katanya ketika
ditemui VIVAnews.com, Rabu 18 Januari 2012.

Meski demikian Eman tetap meminta agar penumpang menjaga
keselamatan dan tidak nekat naik di atap.

Dia mengatakan keberadaan bandul seberat 3 kilogram yang hanya berjarak 25 centimeter dengan atap kereta membuat penumpang di atap tidak mungkin bisa menghindar. Efeknya sangat berbahaya bahkan pada saat kereta melaju kencang, bisa membuat penumpang di atap terlempar jatuh.

“Risikonya tidak sebanding dengan harga tiket yang hanya Rp1.500 untuk sekali jalan,” ucapnya.

Sejauh ini untuk menyosialisasikan keberadaan bandul pihaknya selalu melakukan imbauan kepada calon penumpang. Kalau masih ada yang nekat, petugas memerintahkan masinis untuk menghentikan kereta hingga penumpang mau turun dari atap.

“Ada juga petugas yang selalu bersiaga untuk mengamankan para
penumpang yang ada di atap,” ujarnya.

Dinilai Berlebihan

Meski terbilang berhasil untuk menghalau penumpang nekat di atap
kereta, namun kebijakan itu dinilai berlebihan oleh sebagian
penumpang.

“Iya memang efeknya bisa bikin penumpang di atas takut,
tapi kok tidak manusiawi dan cenderung membahayakan. Walaupun bandel mereka itu manusia juga, kalau kena terus jatuh kan kasian,” ujar Rama Ari (30) warga Kranji Bekasi Barat yang akan naik kereta ekonomi ke Cibitung.

Rama sendiri belum mau mengatakan jika keberadaan bandul itu efektif menghalau penumpang di atap. “Kalau sehari belum ketahuan efektif atau tidak. Kalau sudah seminggu bersih, baru itu berhasil,” katanya.

Hal serupa juga dikatakan Agung (21) warga Cibitung yang akan pulang
kampung ke Solo Jawa Tengah. Menurut pria yang mengaku pernah naik di atap ini, seharusnya sebelum dibuat bandul PT KAI harus menambah jadwal kereta ekonomi.

“Penumpang naik di atap itu karena mereka takut terlambat, karena kereta selalu penuh apalagi kalau mau masuk kerja,” katanya. (ren)



© VIVA.co.id
Share :  
Rating
KOMENTAR
gazibu
19/01/2012
Memang penggguna KA di Jakarta, banyak yang nyaman naik di atap kali, karena klo di Bandung dengan KA berduri aja dah tertib
Balas   • Laporkan
jitojit
19/01/2012
PT. KA maju terus.... yg suka naik diatas atap gerbong,... sekali kali coba naik diatas kap bus..... utk orang HAM, coba pelanggaran yg mana? aneh...
Balas   • Laporkan
jackerz
19/01/2012
K.A.. Yang naik di atap juga . bwat K.A . qlo kapasitas memadai ngapain pda nkat naik ke atap bwat orang" yg naik di atap . pikir wooi emang u kira nyawa u bnyak .
Balas   • Laporkan
dhany.kedabagan | 19/01/2012 | Laporkan
Nyari yg gratis.....
kaixa_kun
18/01/2012
solusinya adalah; tambah gerbong, keamanan & kenyamanan pnumpang diutamakan, pnumpang jg harus sadar jgn merusak fasilitas umum, supaya tdk terlambat ya bangun lebih pagi lagi ~_~
Balas   • Laporkan
ibro
18/01/2012
sy yakin ptka tdk bermaksud menjatuhkan gerombolan atapers, tp mencegah spy mereka tdk naik diatap. karena sangat berbahaya duduk diatap kereta.. turunlahsebelum kejadian atap roboh terulang lagi....
Balas   • Laporkan
3232
18/01/2012
walau bandel mereka manusia juga, hello... seharusnya manusia tu punya otak berpikirlah sedikit, gunain otaktu kasian dipendem mulu, ya mbok kalau tau bahaya ya jngn naik,, simple kan, dan infrastruktur juga mesti dibenahi...
Balas   • Laporkan
sky_proj
18/01/2012
Tidak setuju, krn tdk ada yg bertanggung jawab kalau ada masalah yang di timbulkan, lebih baik cari solusi lain!!
Balas   • Laporkan
gazibu | 19/01/2012 | Laporkan
Hanya pejabat konyol dan bego yang mau bertanggung jawab atas , tindakan melanggar ketertiban dan hukum...maju terus PT KAI, yang naik diataplah yang melanggar HAM
putra.sunda89 | 19/01/2012 | Laporkan
... komentar yang KONYOL
3232 | 18/01/2012 | Laporkan
ya ngapain cari masalah kalo gitu....
andiwilky
18/01/2012
OK... sngat setuju. tp ya ngaca dl lah bkn mslah tiketx yg 1500, tp plyananx kdg grbong jg sdh penuh, sesak, kotor, KA suka telat. tambhin gerbongx & tertibkan jadwal, sbgian dr mrka klo hnya 1500 pst bs bayar tp klo k'daanx sprti td yaaa gt deh.. :P
Balas   • Laporkan
bagong
18/01/2012
Paling tidak PT KAI harus perbaiki dulu armadanya... jadwal dan jumlah armada harus ditambah. tertibkan anggotanya baik di dalam kereta atau di stasiun. jangan berharap orang rela dipepes dalam gerbong. makanya pada naik ke atas.. apalagi bocah buat gaya
Balas   • Laporkan
bagong
18/01/2012
Batu sekecil buah salak pun kalo disundul dengan kecepatan 80KM/jam bisa buat pecah kepala... apalagi bandul spt ini... mnkn memang harus ada sample yg mati dulu baru pada kapok naek ke atap.. nah kita tinggal tunggu berita berikutnya..siapa yg beruntung.
Balas   • Laporkan


KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Info Pemasangan Momentum:
Telepon: 021-5610-1555 / Sales
Email: salesteam@vivanews.com