TUTUP
TUTUP
METRO

Ini Teknologi Pengolahan Sampah Jakarta

Pemprov DKI Jakarta mengajak serta peran swasta melalui public private partnership.
Ini Teknologi Pengolahan Sampah Jakarta
Sampah di Bantar Gebang (VIVAnews/Nurcholis Anhari Lubis)

VIVAnews - Guna mengatasi masalah sampah yang ada di Jakarta, Pemerintah Provinsi DKI mengembangkan program regionalisasi persampahan yang melibatkan daerah penyanggah. Peningkatan kerja sama dengan daerah penyangga Jabodetabekjur sangat diperlukan untuk mengatasi sampah.

Menurut Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo, pengolahan sampah secara terintergrasi dirasa dapat menyelesaikan masalah sampah mulai dari Jakarta hingga wilayah Cianjur, Jawa Barat.

Dijelaskan Fauzi Bowo, khusus Jakarta sistem pengolahan sampah akan menggunakan kerjasama pemanfaatan lahan TPA Bantar Gebang, Bekasi dan  pemanfaatan lahan TPST Ciangir, Tangerang. Kontrak kerjasama kedua sistem ini akan diperjang.

Selain itu Pemprov DKI akan mengembangkan teknologi Intermediate Treatment Facility agar tidak menimbulkan masalah kemudian hari. Karena itu, pemprov mengajak serta peran swasta melalui public private partnership.

"Alternatif pembiayaan ITF Pulogebang melalui APBD dan selebihnya swasta. Outsourcing untuk armada pengangkut maupun pengelolaan sampah," katanya.

Sampah yang ada di Jakarta setiap tahunnya mengalami peningkatan rata-rata 5%. Jumlah sampah terangkut baru sekitar 85-90 %. Karena itu perlu peran serta masyarakat dalam penanggulangan masalah itu.

"Melalui program bersih-bersih Jakarta di seluruh wilayah kota madya. Sosialisasi dan edukasi reduce, reuse dan recycle (3R) kepada masyarakat mengenai penyelesaian masalah sampah hingga ke tingkat rumah tangga," jelasnya.

Sejauh ini, pengembang kawasan yang sudah berkomitmen membangun sentra 3R adalah pengembang Pantai Indah Kapuk (PIK). Di lokasi fasilitas sosial dan fasilitas umum PIK akan dibuat proyek percontohan sentra 3R dengan menggandeng investor.

Di sana akan dibangun fasilitas pengolahan sampah dengan teknologi Integrated Dry Anaerobic Digestion and Composting. Sampah di sini akan diolah menjadi listrik dan kompos. Namun bedanya dengan ITF, Sentra 3R kapasitasnya lebih kecil, sekitar 200 ton per hari.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebersihan DKI Eko Bharuna mengatakan, pihaknya juga mulai fokus pengolah sampah di dalam kota untuk mempercepat pengolahan sampah dan mengurangi volume sampah ke TPST Bantar Gebang.

"Membangun pengolahan sampah dalam kota melalui tiga unit ITF di dalam kota, yakni ITF Cakung Cilincing, ITF Marunda, dan ITF Sunter yang merupakan amanat RPJMD 2007-2012," katanya.


ITF Cakung Cilincing diperluas dari awalnya hanya 4,5 hektar menjadi seluas 7,5 hektar. Diharapkan, ketika beroperasi penuh pada tahun 2012 mampu mengolah sampah sebanyak 1.300 ton per hari.

Sampah akan diolah menjadi kompos, bahan bakar pembangkit listrik berkapasitas 4,95 MW atau menghasilkan bahan bakar gas (BBG) sebesar 445.699 MMBTU. ITF Cakung Cilincing menerapkan teknologi mechanical biological treatment (MBT).

Namun, proses pembangunannya dilakukan secara bertahap, yaitu per 1 Agustus 2011 sudah beroperasi mengolah sampah 450 ton per hari menjadi kompos.

Per 1 Januari 2012 beroperasi mengolah sampah 600 ton per hari dengan teknologi MBT. Sampah tersebut diolah menjadi BBG per listrik, produk daur ulang dan kompos. Pada masa yang sama juga akan beroperasi pengolahan sampah 1.300 ton per hari dengan teknologi MBT. Sampah tersebut diolah menjadi BBG per listrik, produk daur ulang dan kompos.

Sedangkan, ITF Sunter yang berdiri di atas lahan 3,5 hektar direncanakan mampu mengolah sampah sebanyak 1.200 ton per hari dengan teknologi waste to energy. Saat ini, ITF Sunter beroperasi sebagai fasilitas pemadatan sampah Stasiun Peralihan Antara Sunter (SPA Sunter).

SPA Sunter berfungsi untuk mengefisienkan ritasi kendaraan angkut sampah sehingga proses pengiriman sampah ke TPST Bantar Gebang tidak menambah potensi kemacetan di jalanan Ibu Kota.

Saat ini akan dilaksanakan tender yang lebih kurang memakan waktu tiga bulan dengan skema Kerja sama pemerintah dan swasta (KPS) dalam Pengadaan Infrastruktur. Pola kerja samanya Build, Operate, and Transfer (BOT). Penandatanganan kontrak direncanakan pada awal Januari 2012.

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...
TUTUP