METRO

Rahasia Makam Pangeran Jayakarta

Makamnya dirahasiakan hingga tiga abad lebih, dan diumumkan setelah Belanda pergi.

ddd
Senin, 1 Agustus 2011, 12:52
Masjid As-Salafiyah
Masjid As-Salafiyah (VIVAnews/Sandy Hasan Mahaputera)

VIVAnews - Makam Pangeran Jayakarta di kawasan Jatinegera Kaum, Jakarta Timur, memang tidak pernah sepi dari peziarah yang datang dari berbagai daerah. Di balik cerita mengenai hal itu, ternyata tempat peristirahatan terakhir bangsawan Banten itu pernah dirahasiakan keberadaannya hingga tiga abad.

Makam Pangeran Jayakarta baru diumumkan pada 1965 bertepatan dengan HUT DKI ke-429, yaitu pada massa pemimpinan Gubernur Henk Ngantung atau setelah Belanda pergi.

Dalam kepemimpinan Pangeran Jayakarta, pejuang berhasil mengusir Jan Pieterszoon Coen dan tentara VOC-nya dari Jayakarta. Meski Belanda datang lagi dengan bantuan tentara dari Ambon dan berhasil merebut Jayakarta dan mengganti dengan nama Batavia.

Karena terdesak Pangeran Achmad Djakerta (Pangeran Jayakarta) dan pasukannya bergerak mundur ke timur hingga daerah Sunter, lalu ke selatan.

Sambil terus bergerak ke selatan, ketika itu Pangeran Jayakarta membuang jubahnya ke sebuah sumur tua. Ini untuk mengelabui VOC yang akan mengira Pangeran Jayakarta telah tewas ke dalam sumur tua itu.

Benar saja, pasukan Belanda meyakinkan kalau sang pengeran telah masuk sumur dan meninggal dunia. Mereka kemudian menghentikan pengejaran dan menimbun sumur dengan tanah.

Beberapa cerita lain menyebutkan bahwa pangeran Jayakarta gugur dalam pertempuran itu. Akan tetapi, ada pula kisah yang menyebut beliau berhasil lolos dari maut.

Kisah ini memang ada beberapa versi, termasuk yang bernuansa gaib, yang menyebut bahwa, saat dikejar Belanda, Pangeran Jayakarta tiba-tiba menghilang di sebuah sumur di daerah Angke. Kemudian muncul lagi di Mangga Dua.

Pada keadaan lain, situasi tidak memungkinkan bagi Pangeran Jayakarta dan sisa pengikutnya untuk kembali, mereka memutuskan untuk berjalan terus ke selatan. Sampailah mereka pada sebuah hutan jati di tepi Kali Sunter yang membelah hutan, yang kemudian dikenal daerah Jatinegara Kaum, dan memutuskan untuk tinggal.

Permulaan tahun 1620, Pangeran Jayakarta kemudian membangun masjid dekat Kali Sunter. Kegunaan masjid ini untuk menggalang kekuatan kembali.

Sebelum bernama Masjid As-Salafiyah, masjid ini dikenal dengan sebutan Masjid Pangeran Jayakarta. Puluhan ulama, tokoh masyarakat dan jawara seringkali berkumpul di masjid ini menyusun strategi perjuangan dan dakwah Islam.

Pada tahun 1940 M Pangeran Jayakarta meninggal dunia dan dimakamkan dekat Masjid Assalafiah bersama para keluarga dan pengikutnya.  (eh)



© VIVA.co.id
Share :  
Rating
KOMENTAR
KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Informasi Pemasangan :
Telepon : 021-9126 2125 / Sales
Email : Sales@viva.co.id