METRO

Ekspedisi Wisata Gereja Sion

Gereja ini adalah bangunan yang awalnya berupa pondok terbuka sederhana.

ddd
Sabtu, 26 Desember 2009, 14:41
 
  (Antara/ Fanny Octavianus)

VIVAnews - Gereja Sion menjadi tujuan pertama ekspedisi wisata Kota  Tua oleh Tim Peta Hijau Jakarta, Sabtu 26 Desember 2009. Gereja ini adalah bangunan yang awalnya berupa pondok terbuka sederhana.

Gereja Portugis di luar Kota (Portugeesche Buitenkerk) begitulah mulanya Gereja Sion disebut, karena gereja tertua di Jakarta itu berada di luar tembok kota Batavia waktu itu. Gereja tua ini juga memiliki nama Belkita, semasa Hindia Belanda menguasai Batavia.

Dalam catatan sejarahnya, gereja ini dibangun mulai 19 Oktober 1693. Peletakan batu pertama dilakukan oleh Pieter van Hoorn dengan arsitek Ewout Verhagen dari Rotterdam. Gereja ini baru selesai dibangun dua tahun kemudian atau tepatnya pada 23 Oktober 1695. Gereja Portugis ini pernah dipugar pada 1920 dan 1978.

Namun sayang, ekspedisi kali ini tidak bisa mengeksplorasi lebih mendalam tentang gereja yang telah berusia ratusan tahun ini. Karena di dalam gereja tengah dilakukan ritual keagamaan berkaitan peringatan Hari Natal.

"Kalau bisa datang minggu depan juga boleh, tapi memberi tahu dulu biar nanti ada yang mandu," kata salah satu pengurus Gereja Sion yang bernama Gea.

Dari luar tampak jendela antik yang bentuknya melengkung mengesankan bangunan indah. Tinggi jendela-jendela itu kurang lebih tiga meter.

Di pintu barat gereja terdapat 11 makam kuno dengan batu nisan besar khas zaman Belanda. Kesebelas nisan makam ini dipasang secara mendatar (horisontal). Bahan nisan terbuat dari bahan batu yang didatangkan dari India, atau tepatnya dari daerah Pantai Koromandel.

Selain itu, menurut Gea, gereja ini mempunyai pondasi yang tangguh. Karena, gereja tua ini ditopang 10.000 kayu dolken bulat sebagai fondasi bangunan. Kayu-kayu ini nampaknya difungsikan sebagai pasak bumi dalam bangunan modern zaman sekarang.

"Bahkan saat gempa akibat meletusnya Krakatau, gereja ini tetap saja kokoh," kata dia.

Dalam sejarahnya, gereja Sion beberapa kali terancam. Pada masa pendudukan Jepang, gereja ini sempat akan dijadikan tempat abu tentara yang gugur. Kemudian pada 1984, halaman gereja menyempit karena harus mengalah pada kepentingan pelebaran jalan.

"Dulu halaman gereja sampai jalan itu, sebelum akhirnya dibuat menjadi empat jalur," kata Gea sambil menunjuk Jalan Jembatan Batu yang mengarah ke Jalan Mangga Dua.

Setelah Gereja Sion, ekspedisi wisata kota oleh Peta Hijau Jakarta berikutnya adalah Kampung Pecah Kulit. Sebuah Kampung yang menyimpan misteri Pieter Erberveld. Motif konflik tanah dengan Gubernur Jenderal Zwaardecroon melatari penangkapan dan hukuman mati buat Erberveld.



© VIVA.co.id
Share :  
Rating
KOMENTAR
KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Informasi Pemasangan :
Telepon : 021-9126 2125 / Sales
Email : Sales@viva.co.id